Anwar Ibrahim, Perdana Menteri Malaysia, mengkritik keputusan Israel mengumumkan tender pembangunan proyek pemukiman E1 di timur Yerusalem. Ia menilai langkah tersebut merugikan harapan pembentukan negara Palestin yang kontinu.

Dalam pernyataannya, Anwar menekankan bahwa proyek E1, yang berlokasi di area yang dianggap sebagai bagian dari Yerusalem Timur oleh Israel, bertentangan dengan upaya perdamaian. Ia menyoroti bahwa tender ini memperkuat dominasi Israel di wilayah yang secara internasional diakui sebagai bagian dari Palestin.

Kritik Anwar muncul dalam konteks meningkatnya ketegangan antara Israel dan organisasi kemanusiaan serta negara-negara lain. Ia menyerukan dialog dan solusi damai untuk mempercepat proses perdamaian di Timur Tengah.

Pernyataan ini menunjukkan sikap Malaysia sebagai negara yang tetap memperhatikan isu kemanusiaan dan perdamaian di wilayah tersebut.