Pengamat politik Adi Prayitno menilai Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 menjadi momentum penting untuk mengatasi potensi perpecahan di tubuh Pimpinan Pusat Nahdlatul Ulama (PBNU). Ia menekankan bahwa pertemuan tersebut harus menjadi ajang islah politik yang mampu memperkuat solidaritas dan kesatuan organisasi.
Menurut Adi, dinamika internal PBNU terus menghadapi tantangan, terutama dalam hal kebijakan dan peran organisasi dalam isu-isu nasional. Ia menyarankan bahwa Muktamar ini bisa menjadi kesempatan untuk memperkuat koordinasi antar tokoh dan memastikan kebijakan yang diambil selaras dengan visi dan misi NU.
Selain itu, pengamat ini juga menyoroti pentingnya dialog terbuka dan transparansi dalam pengambilan keputusan. Ia menegaskan bahwa keberhasilan Muktamar akan tergantung pada kemampuan para pemimpin untuk membangun kesepahaman dan menghindari konflik yang bisa merusak kohesi organisasi.





























