Yenny Wahid, putri dari pendiri Nahdlatul Ulama (NU), menegaskan bahwa demonstrasi anarkis bukan bagian dari budaya NU. Pernyataan ini disampaikan saat ia memimpin Muktamar ke-35 NU. Ia menekankan pentingnya musyawarah sebagai dasar dalam pengambilan keputusan.

Dalam pidato pembukaan, Yenny Wahid mengajak seluruh peserta Muktamar untuk fokus pada politik kebangsaan. Ia menyoroti perlunya dialog dan kesepakatan bersama dalam menghadapi berbagai isu yang dihadapi bangsa.

Selain itu, Yenny juga menyoroti pentingnya menjaga konsistensi nilai-nilai NU dalam konteks politik modern. Ia menekankan bahwa NU tidak boleh terlibat dalam bentuk kekerasan atau tindakan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar organisasi.

Muktamar ke-35 NU diharapkan menjadi forum untuk memperkuat peran NU dalam pembangunan nasional. Pemimpin-pemimpin NU dari berbagai daerah hadir untuk membahas berbagai isu strategis.