Aktivitas vulkanik di sekitar wilayah tersebut menghasilkan abu yang merusak kulit manusia. Partikel abu vulkanik memiliki tekstur kasar dan mengandung zat-zat berbahaya dari erupsi, sehingga bisa menempel pada kulit dan menyebabkan iritasi. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), paparan abu vulkanik secara berulang dapat mengganggu kesehatan kulit dan mata warga sekitar.
Beberapa warga mengeluhkan gejala seperti gatal, kemerahan, dan peradangan pada kulit mereka. Mereka juga mengalami kesulitan menghirup udara akibat partikel abu yang menggumpal di udara. Pemerintah setempat sedang berupaya memantau kondisi warga dan memberikan perlindungan dasar terhadap dampak kesehatan.
Sementara itu, para ahli kesehatan menyarankan warga untuk menghindari paparan abu vulkanik sebanyak mungkin. Mereka juga mendorong penggunaan masker dan alat pelindung lainnya untuk mengurangi risiko iritasi. Kondisi ini masih dinilai berpotensi berlanjut hingga aktivitas vulkanik stabil.




























