Pemerintah DKI Jakarta berhasil mengurangi penyebaran partikulat PM10 setelah erupsi Gunung Anak Krakatau. Langkah ini dilakukan dengan menggunakan teknik semprotan air (water mist) dan mobil pemadam kebakaran (truk damkar).

Erupsi Gunung Anak Krakatau pada awal Desember 2023 menghasilkan abu vulkanik yang berdampak pada kualitas udara di sekitar wilayah Jakarta. PM10, partikel halus yang berbahaya bagi kesehatan, tercatat meningkat signifikan setelah letusan.

Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta memperkenalkan sistem semprotan air sebagai upaya mengurangi partikel berbahaya di udara. Tekhnologi ini membantu menyerap dan menurunkan konsentrasi PM10 di udara.

Pemerintah terus memantau kualitas udara dan berencana memperluas penggunaan teknologi ini di area lain yang terdampak erupsi. Langkah ini menunjukkan upaya aktif dalam mengelola dampak lingkungan dari aktivitas vulkanik.