Gus Yahya, tokoh penting dalam Nahdlatul Ulama (NU), telah meninggalkan tiga legacy strategis yang akan memandu transformasi organisasi dalam abad kedua. Tiga legacy tersebut diterima secara aklamasi oleh peserta Muktamar NU ke-35, yang berlangsung di Surabaya, Jawa Timur. Legacy pertama berfokus pada penguatan tata kelola organisasi NU, dengan penekanan pada transparansi dan akuntabilitas. Legacy kedua melibatkan peningkatan peran NU dalam kancah global, termasuk dalam isu-isu seperti pendidikan, kesehatan, dan keadilan. Legacy ketiga menekankan pentingnya pendekatan inklusif dalam menghadapi tantangan sosial dan politik di Indonesia.

Dalam pidato penutupnya, Gus Yahya menegaskan bahwa tiga legacy ini merupakan hasil dari refleksi dan pengalaman selama masa kepemimpinan. Ia juga menyerahkan tanggung jawab kepada generasi muda NU untuk meneruskan visi dan misi tersebut. Muktamar NU ke-35 menjadi momentum penting bagi organisasi yang berisi lebih dari 10 juta anggota ini untuk memperkuat keberadaannya di tengah dinamika politik dan sosial yang semakin kompleks.