Gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8/2026), menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur. Setidaknya 40 orang tewas, dengan puluhan lainnya terluka. Guncangan juga memicu tsunami kecil setinggi 1,61 meter yang merendam desa pesisir. Tanah longsor menghambat akses jalan Trans-Flores, memaksa lebih dari 2.000 warga mengungsi.

Pemadaman listrik dan gangguan komunikasi memperlambat upaya pencarian korban. PLN melaporkan sekitar 12 persen pelanggan di daerah terdampak belum kembali beroperasi. Pertamina Patra Niaga memastikan pasokan BBM dan LPG tetap dijaga dan dipulihkan secara bertahap.

Badan Geologi memberikan penjelasan bahwa gempa mengindikasikan kemungkinan terjadinya likuifaksi. Pemangku kepentingan mengimbau warga tetap waspada dan menghindari area rawan.

Pemerintah setempat berupaya mempercepat respons darurat, meski tantangan masih terasa akibat kondisi yang tidak stabil.