Gempa bumi berkekuatan M 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026), menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur. Hingga Minggu (16/8/2026) pagi, jumlah korban meninggal mencapai 53 orang, dengan 135 lainnya luka-luka, menurut laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Angka korban tewas terus bertambah, dengan beberapa sumber menyebutkan jumlahnya mencapai 51 orang, sementara laporan lain menyebut 47 orang.
Polri kembali mengirimkan tim pencarian dan penyelamatan (SAR), anjing pelacak K9, serta bantuan logistik untuk mendukung upaya evakuasi dan penanganan darurat. Personel SAR dikerahkan dalam jumlah besar, sekitar 180 orang, untuk menggali korban yang terjebak dan menemukan sumber kebutuhan dasar. Kementerian Kesehatan juga fokus pada pemulihan layanan kesehatan di daerah terdampak.
Korban luka masih dalam proses pendataan, dengan pihak berwenang bekerja sama dengan pemerintah daerah dan BPBD. Banyak rumah rusak, terutama di daerah terpencil, memperparah kondisi darurat. Upaya evakuasi terus berlangsung, dengan penekanan pada kecepatan dan keselamatan.
Bantuan darat mulai tiba, menunjukkan respons cepat dari pihak berwenang. Namun, tantangan masih besar, terutama di wilayah yang sulit diakses. Kondisi cuaca dan infrastruktur rusak memperumit upaya penyelamatan. Kebutuhan akan bantuan tambahan dan koordinasi lintas sektor terus meningkat.























