Kerugian akibat gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) diperkirakan mencapai Rp2,2 triliun, menurut Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Bencana yang terjadi pada 15 Agustus 2026 menghancurkan delapan kabupaten, menyebabkan kerusakan infrastruktur dan kehilangan besar bagi masyarakat.
Beberapa warga memilih mengungsi mandiri untuk menjaga lahan pertanian dan ternak mereka. Mereka khawatir harta benda akan dicuri jika ditinggalkan. Kondisi ini menyebabkan sebagian keluarga belum menerima bantuan di pengungsian resmi. Mereka masih membutuhkan kebutuhan dasar seperti selimut dan susu untuk anak.
Gempa juga merusak 1.378 sekolah di Pulau Flores, NTT. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kerusakan tersebut. Selain itu, jumlah korban meninggal bertambah menjadi 83 orang. BUMD DKI Jakarta turut menggalang bantuan untuk warga terdampak.
Bantuan dari berbagai pihak terus berdatangan, namun kebutuhan masyarakat masih besar. Pemerintah dan organisasi kemanusiaan berupaya mempercepat distribusi bantuan.


























